Jumat, 14 Desember 2007


Pada pembukaan pameran tunggal-nya tahun 2005 Rosid menggambar potret ibunya langsung di tempat. Pameran itu ia persembahkan sebagai penghormatan pada Ibu Supiyem, orang yang telah melahirkannya. Dari sini kemudian terumuskan ide untuk mempersembahkan penghormatan pada sang ayah.

Pada pameran kali ini Rosid menghormati sang ayah, Pak Dapin, seorang petani di Desa Parigi. Ia diperkirakan berusia 85 tahun kini. Pada usia ketika seseorang layak menikmati masa istirahat, ketika semua anak-anaknya telah mandiri, Pak Dapin tetap mengisi hidupnya dengan bekerja. Rosid menjadikan sang ayah sebagai subjek karya-karyanya dalam upaya meneladani.

Rosid memulai kariernya sebagai pelukis sebagai juru gambar potret. Potret merupakan representasi dari diri seseorang. Dengan begitu, menggambar orang yang telah menghidupinya, membuat Rosid seperti pulang pada asal.

Dalam gambar figur, tubuh menjadi kosa-rupa lain di samping wajah. Dalam pembelajaran gambar figur, masih digunakan proporsi manusia ideal khas kaukasia. Sejarah penggambaran figur kental dengan pandangan rasis. Sementara lukisan potret bermula dari kebiasaan menggambar para raja. Orang-orang besar. Rosid tidak memulai dari sana. Sejak dulu ia menggambar orang-orang biasa, tubuh-tubuh yang tak sempurna.

Rosid kini tidak menggunakan pensil lagi. Ia menggunakan kuas, dengan pewarnaan pada skala abu-abu. Sapuan kuasnya seperti teknik arsir pensil. Efek ini lebih memberi kesan kedalaman pada gambar, namun dengan garis-garis yang lebih variatif. Figur jadi tampak lebih meruang. Kedalaman ini menyediakan keleluasaan bagi Rosid untuk mengolah karakter permukaan sosok-sosok di gambarnya.

Melalui gambar, Rosid menapaki jejak dari masa yang telah membesarkannya, jejak dari teladan orang-orang di sekitarnya.


Heru Hikayat
Kurator pameran

Pameran ini berlangsung pada:
22 November 15 Desember 2007
Galeri Soemardja
Jl. Ganesha 10 Bandung
Pembukaan:
22 November 2007 pk. 19.30
Dibuka oleh Bpk. Sunaryo

Serta akan dipamerkan kembali pada:
22 Desember 2007 5 Januari 2008
Galeri Semarang
Jl. Dr. Cipto no. 10 Semarang
Pembukaan:
22 Desember 2007

Jumat, 09 November 2007


PENGANTAR

Pameran fotografi yang kita saksikan kali ini merupakan rangkaian akhir dari program residensi seniman asal Australia Wanda Gillespie yang dipilih oleh Galeri Soemardja dari sekian aplikasi yang ditawarkan oleh Asialink. Pada tahun ini, Galeri Soemardja kembali berkesempatan menjadi tuan rumah untuk mengakomodasi program tersebut sebagai wujud kerjasama antar lembaga dan mempererat kerjasama di bidang kesenian.

Selama kurang lebih tiga bulan, Wanda Gillespie bekerja di Galeri Soemardja dan untuk beberapa waktu diselingi kerja pahatan kayu di Jatiwangi Art Factory (Majalengka-Jawa Barat). Selama masa residensi itulah, Wanda mengolah pelbagai gagasan yang kemudian dieksekusi ke dalam karya seni instalasi dan fotografi.

Untuk lebih mempererat interaksi dan komunikasi serta diharapkan bisa membangun diskusi yang produktif, bersamaan dengan program tersebut, Galeri Soemardja secara khusus meminta Wanda menggelar workshop dengan komposisi peserta yang terdiri dari sejumlah mahasiswa Seni Rupa-ITB serta alumni. Workshop bertajuk Fictitious Realities -The ephemeral Idea and the clunky object yang dikerjakan selama kurang-lebih satu minggu itu, dan sepanjang prosesnya, Wanda dibantu oleh Henrycus Napitsunargo yang juga berperan sebagai tutor pendamping pada aspek teknik.

Di dunia seni rupa Indonesia kehadiran fotografi dalam pameran terbilang langka. Dalam setahun, kita bisa menghitung dengan jari pameran-pameran fotografi, itupun dengan catatan bahwa kita tidak menghitung pameran karya-karya fotografi salon. Di dalam tempo setahun itu pula, kita jumpai karya fotografi tersisip di pameran-pameran bersama seniman.

Oleh karena itu, pameran Fictitious Realites ini layak dicatat sebagai pameran yang berupaya mengisi kelangkaan tersebut. Dengan keyakinan itu pula Galeri Soemardja percaya kalau pameran hasil workshop ini banyak faedahnya untuk mahasiswa menambah pengalaman artistik sekaligus belajar menguji gagasan-gagasannya dihadapan publik.


Aminudin TH. Siregar
Galeri Soemardja

FOREWORD


This photography exhibition is the final part of the Artist Residency Programme hosting an Australian artist named Wanda Gillespie who was chosen by Galeri Soemardja from many eligible applicants offered by Asialink. This year, Galeri Soemardja is honored to have another opportunity to be the host of this programme as a form of collaborative work between institutions in order to strengthen the relationships, especially in the field of art.

Wanda Gillespie has been working at Galeri Soemardja for almost three months while doing some wood carvings at Jatiwangi Art Factory in Majalengka, West Java. During her residency period, Wanda has explored various ideas which were transformed into artwork in the forms of an installation and photography.

To strengthen the interaction and communication hoping to lead to productive discussions related to this programme, Galeri Soemardja specially asked Wanda to hold a workshop involving some students and alumni from The Faculty of Fine Art and Design ITB. The theme of this one-week workshop is Fictitious Realities -The Ephemeral Idea and the Clunky Object, of which was assisted by Henrycus Napitsunargo as the tutor in charge of technical-related matters throughout the process.

The presence of photography in the world of art is somewhat scarce. In a year, photography exhibitions can be easily counted by the numbers of fingers on one hand, noting that ‘salon photography’ is not included. In addition, during the one year period, we would also find some photographic work is slipped in many art exhibitions.

In response to this situation, this Fictitious Realities exhibition should be documented as an exhibition which is hoped to fill the empty space of such rarity. Galeri Soemardja strongly believes that the final outcome of this workshop would be useful for the students to gain further experience in exploring their artistic sense, and also to put their ideas to the test for the public consumption.


Aminudin TH. Siregar
Galeri Soemardja


Koper, Panggung, Perjalanan

Kemunculan wacana ‘obyek’ dalam seni rupa kontemporer antara lain dipicu oleh konflik dalam perkembangan seni lukis moderen-formalis. Konflik itu memasalahkan kehadiran ‘bentuk’ (shape). Apakah ‘bentuk’ dalam perkembangan seni lukis moderen telah bergeser menjadi ‘obyek’ atau tetap sebagai medium seni lukis? (Ingatlah misalnya lukisan-lukisan bersegi banyak karya Frank Stella).

Konflik perihal ‘bentuk’ lukisan itu membayangi kemunculan seni rupa literalis -atau minimalis menurut Clement Greenberg- yang dianggap terang-terangan memunculkan ‘objecthood’ atau kondisi ‘non seni’. Kondisi ‘non seni’ makin mengemuka; para pelukis malahan tak bermaksud menangguhkannya, sebaliknya menampilkannya secara literal, kata kritikus Michael Fried. Di masa sebelumnya, para pelukis mengolah ‘bentuk’ itu sebagai sesuatu yang piktorial, sekarang kondisi ‘non seni’ yang ditengarai sebagai unsur-unsur teater malah masuk ke wilayah seni rupa, kata Fried. ‘Bentuk’ pada karya seni rupa tetap menjadi fokus situasi, tapi situasi itu katanya kini direbut oleh pemirsa. Dalam kaitan dengan pemirsa inilah, maka kondisi ‘non seni’ yang mulai merasuki gagasan para perupa dianggap sebagai bersumber dari teater.

Hardiman Radjab adalah perupa yang sangat dekat dengan lingkungan teater -ia perancang panggung sejumlah pertunjukan teater kontemporer - dan ia juga perupa dengan latar belakang disiplin kriya kayu. Keduanya tentunya tidak ‘murni’ menurut anggapan kritikus ‘seni murni’. Pada obyek-obyek koper ini malahan seperti terang-terangan Hardiman memasukkan anasir ‘teater’ atau mengoper panggung teater ke dalam koper. Beberapa karyanya dalam pameran ini memetik inspirasinya dari panggung pertunjukan teater. Memang, kita tak lagi hidup di jaman seni rupa formalis, dan konflik antara (wacana) seni rupa dan (kondisi) teatrikal yang dianggap sebagai musuh seni rupa ‘murni’ itu juga tak pernah ada di lingkungan seni rupa kita.

Dalam satu dekade terakhir ini, wacana obyek di lingkungan seni rupa kontemporer kita datang begitu saja. Misalnya sebagai perluasan gagasan trimatra dari para pelukis atau permainan yang mengasyikkan perihal skala oleh para pematung. Para perupa dari lingkungan kriya-seni menyambutnya dengan bermacam-macam pendekatan: olahan bentuk baru yang menyimpang dari tradisi dan fungsi wadah, pencampuran bahan, mengkopi atau mengapropriasi bentuk yang ada, dan sebagainya. Pendek kata, obyek dalam seni rupa kita ikut merayakan keserbabolehan.
Dengan latar ini, karya Hardiman Radjab yang memanfaatkan bentuk dan ruang yang "menjadi’ dalam koper, bahkan menghidupkannya (perhatikan, dalam pameran ini kopernya ada yang bisa ‘bernafas’), memberinya isi dan tafsiran macam-macam menjadi menarik karena kesuntukannya menggarap single-minded medium koper.

Hardiman mantap memilih obyek ini, dan merasa bahwa obyek-koper ini –umumnya koper-koper tua yang menyiman tanda dan bau keras suatu perjalanan - cukup lebar untuk menampung wawasan, ide atau cerita lewat bentuk kopernya yang begitu-begitu saja. Bau perjalanan, suasana asing, pengab, ingatan, kenangan, perpindahan tempat, kesendirian dan kesunyian meruap dari kopor-kopor tua dalam karya-karyanya.

Kentalnya upaya menyusun tema dalam obyek-koper Hardiman menunjukkan kecenderungan berbeda dengan wacana obyek yang ‘serba boleh’ dalam seni rupa kontemporer kita akhir-akhir ini. Di sana letak keunikan sekaligus kekuatan karya Hardiman menurutku.

Pameran di Galeri Soemardja ini merupakan terminal terakhir dalam pameran berjalan karya koper Hardiman yang tahun lalu dikukuhkan sebagai pameran tunggal terbaik tahun 2006 oleh Majalah ‘Tempo’. Pameran ini sebelumnya sudah berlangsung di Cemeti Art House, Yogyakarta (Juli 2007) dan Rumah Seni Yaitu, Semarang (September 2007). +++


Hendro Wiyanto
Kurator Pameran

Minggu, 14 Oktober 2007


Hamad Khalaf adalah seniman muda asal Kuwait. Dalam pameran tunggalnya kali ini dia memamerkan karya-karya obyek maupun instalasi. Obyek-obyek berupa masker gas, granat, peluru, sepatu serta helm tentara tersebut diperolehnya semasa Perang Teluk, ketika Irak menginvansi negerinya-Kuwait.

Dalam pameran ini, Hamad Khalaf tengah mengajak kita merenungi kembali perang serta perebutan kekuasaan antar negara sekaligus membagi pengalaman pribadinya tentang perang. Obyek-obyek tersebut diramunya dengan pelbagai serpihan dari mitologi Yunani. Dari sana, Hamad ingin mempertanyakan mitos perang sebagaimana yang pernah dikisahkan dalam mitologi Yunani.

Pameran ini berlangsung dari tanggal 21 Juli – 8 Agustus 2007

Kesenduan Perang, Patung dan Konfrontasi Ruang

Perkembangan seni patung kontemporer di Indonesia mengarah ke dua titik tujuan. Pertama, keniscayaan baru dimana karya-karya patung berkeinginan memasuki wilayah publik. Kedua, praktik seni patung yang menginginkan terjadinya keterkaitan (kuasi) antara dirinya dengan arsitektur. Meskipun demikian, sejak 1970an, bagaimanapun juga usaha-usaha untuk memperluas patung secara definitif bisa kita temukan dalam kategori yang lain. Kategori itu kelak disebut seni instalasi, yang belakangan sempat merumuskan bingkai pemahamannya di dasawarsa 1990an sebagai peluruh batasan antara seni-seni dua dimensional dengan seni-seni tiga dimensional. Definisi seni patung dalam bingkai ini tentu saja menjadi lenyap karena memang tidak lagi menjadi fokus utama dari seni instalasi. Di lain pihak, dunia seni rupa kita semakin menerima istilah seni instalasi sebagai salah satu media alternatif yang terlepas dari kekangan konvensi seni lukis maupun seni patung.

Lalu di dalam praktik kuasi antara seni publik, arsitektur dan instalasi, bagaimana posisi terkini dari seni patung itu sendiri? Apakah masih bisa kita menyebut sesuatu itu adalah karya seni patung - dimana secara terbalik – senimannya ingin diidentifikasi sebagai seni instalasi? Atau, masihkan kita menyebut sesuatu itu karya patung yang dalam praktiknya berkuasi dengan prinsip-prinsip arsitektur?

Seni patung yang menghampiri wilayah publik (disodorkan di tengah-tengah ruang publik) dianggap sebagai perluasan, tidak saja estetik, tetapi terkait pada kehadiran karya tersebut di ruang yang berbeda, yang juga menginginkan terjadinya pemaknaan yang berbeda. Sebab, karya patung di ruang tersebut akan dianggap menyimpang dari koridor institusionalnya, yaitu ruang galeri. Begitupula karya patung yang meminjam kaidah-kaidah arsitektur, dianggap sebagai terobosan demi memperluas lingkup definisi seni patung yang selama ini dianggap menyempitkan ruang kreasi seniman. Kita akan mengatakan bahwa di tengah kondisi demikian, selain tertekan, seni patung mengalami determinasi sampai-sampai melakukan ekspansi ruang yang – ke dalam dirinya - sekaligus mereduksi takdirnya sebagai seni tiga dimensional belaka. Gugatan seniman terhadap keterbatasan ruang institusional pada batas tertentu cukup mengandung argumentasi yang masuk akal. Sementara itu, ditinjau dari perspektif yang lain, gugatan tersebut cenderung mengada-ada.

Sulit dipungkiri, dalam sejarahnya, ruang-ruang institusional seni (baca: galeri) lebih mengandaikan (mengutamakan) pemajangan karya-karya dua dimensional (seni lukis). Tak terkecuali, kondisi ini menimpa pula pertumbuhan galeri di Indonesia. Saya menilai bahwa seluruh motif bawah sadar galeri pada gilirannya adalah motif bawah sadar yang menganut paham dua dimensional. Implikasi pragmatisnya, ruang-ruang institusional seni memang hanya diperuntukkan untuk seni lukis. Dalam batasan ini, sebuah karya yang dianggap menyimpang dari ruang tersebut akan beresiko untuk disebut sebagai ‘bukan-seni’. Akan tetapi, motif bawah sadar ini masih menyisakan toleransinya pada karya-karya yang kelak kita sebut seni patung. Namun segera kita rasakan pula bahwa dalam batasan ini seni patung ‘hanyalah’ karya non-dua dimensional yang (boleh jadi) cukup diletakkan di atas lantai lengkap dengan penyangganya (base).

Bisa kita bayangkan, kalau seluruh motif bawah sadar pendirian galeri di Indonesia condong ke karya seni lukis, maka seni patung hanya akan dianggap sebagai ‘bonus’ terhadap ruang institusional tersebut. Tidak mengherankan apabila kita menyaksikan sendiri bahwa seluruh tradisi pendirian galeri di Indonesia tidak mampu memproyeksikan kemungkinan karya-karya yang advance, yang melampaui (beyond) konvensi. Pendeknya, saya akan mengatakan bahwa seluruh ruang-ruang galeri di Indonesia tanpa disadari justru ‘tidak menginginkan terciptanya perkembangan karya’ selain yang dua dimensional. Situasi ruang yang serba terbatas ini akhirnya menjadi paradigma praktik seni rupa di Indonesia.

Dalam konteks yang lain, situasi demikian akhirnya merembes ke aspek psikologis dalam penciptaan karya seni, sehingga ruang – dalam bayangan seniman – adalah ruang-ruang ilusif yang terbatas pada kain kanvas. Di sini, seniman tidak lagi melihat galeri sebagai ‘ruang’, melainkan sekedar wadah (dinding) yang akan dipajangi oleh sesuatu, bukan ruang yang tercipta melalui hasil negosiasi antara ‘ruang institusional seni’ dengan konsepsi-konsepsi sang seniman itu sendiri. Pemahaman yang berlatar ‘motif bawah sadar’ ini cukup menjelaskan mengapa wacana seni patung (juga seni instalasi) di Indonesia sulit berkembang. Sedangkan perluasan karya yang ke luar ruangan (outdoor/landscape) belum tentu didasari pemahaman terhadap ruang institusional tersebut, melainkan berdasarkan motif seniman agar karyanya mengalami pemaknaan serta perlakuan yang berbeda. Sampai di sini pun, itikad-itikad seniman untuk meletakkan karyanya di luar galeri menemukan kenyataan yang diluar dugaan, dimana argumentasi demikian ternyata tidak serta merta menjelaskan pemahaman kepada publik tentang, mengapa seni patung harus menghampiri ruang yang ‘non-institusional’ tersebut. Dari pemahaman ini pula kita bisa menilai mengapa dalam batas-batas tertentu gugatan seniman untuk keluar dari galeri cenderung mengada-ada. Ditilik dari sisi lain, tanpa disadari seniman, besar kemungkinan paradigma motif bawah sadar ini adalah semata-mata karena pertimbangan pemilik galeri terhadap pasar (art market).

Iswanto Hartono, yang juga seorang arsitek, sepertinya memahami kemelut persoalan di atas. Secara sadar dia menciptakan karyanya untuk dimasukkan ke ruang institusional tersebut, bukan tanpa resiko, sebab dilema antara dikotomi seni patung – seni instalasi masih membalut karyanya. Akan tetapi, kesadaran bahwa konteks karyanya haruslah dibaca sebagai ‘sesuatu’ yang sekaligus berupa kuasi antara seni patung dan instalasi adalah pemaknaan yang ditarik pada persoalan ruang institusional. Karyanya tidak saja melakukan konfrontasi pada ruang galeri, tetapi juga menantang seluruh motif bawah sadar seluruh pendirian galeri di Indonesia. Ukuran karyanya sebesar 15 x 10 meter ini tentunya membutuhkan volume ruang yang memadai dan ukuran yang luas. Bisa kita periksa sendiri, hanya berapa gelintir galeri di Indonesia yang akan sanggup menampung karya sebesar ini.

Dalam prosesnya, Iswanto dengan cermat menghitung ukuran ruang Galeri Soemardja. Ukuran tersebut dijadikan patokan, sekaligus sebagai sandaran dalam proses estetiknya. Dalam perjalanannya, Iswanto akhirnya memutuskan untuk menciptakan replika pesawat tempur. Ide ini, tidak semata hasil menimbang ukuran ruang galeri, tetapi beranjak dari pertimbangan-pertimbangan konsepsinya kelak. Dengan latar belakang arsitek yang kuat, Iswanto jelas terbiasa dalam memahami ruang dan secara leluasa pemahaman ini dijadikan potensi untuk memainkan skala ukuran obyek. Kecermatan hitungan, melakukan konstruksi sebuah obyek hingga eksekusi akhir, bisa dikatakan sebagai bekal awal bagi Iswanto dalam menciptakan sebuah karya. Berbekal kesadaran inilah kita menemukan alasan mengapa karya-karyanya cenderung ke obyek tiga dimensional sekaligus dihasrati sebagai upaya untuk menyikapi skala ruang. Tampak sekali bahwa dalam prosesnya Iswanto tidak sekedar ‘meletakkan sesuatu’ ke dalam ruang galeri sebagaimana lazimnya karya patung modern. Sebaliknya, dia berusaha untuk menjalin ‘kerjasama’ yang komunikatif antara ruang dengan obyek.

Di sisi lain – di dalam ‘kerjasama itu’ - dia juga bersikeras menawarkan konsepsi-konsepsi keseniannya. Pada titik inilah, provokasi serta konfrontasi tehadap ruang itu dimungkinkan. Bagaimanapun, atap beton ruang Galeri Soemardja yang memiliki garis kuat-tebal disandingkan dengan ‘garis-garis tipis’, suatu outline-outline layaknya kerja gambar. Konstruksi garis-garis tipis tersebut mengonstruksi (obyek) pesawat yang tidak masif, tidak memiliki kepejalan sebab tidak memiliki volume. Pesawat Iswanto terdiri dari batangan besi yang di las sambung menyambung, sehingga secara keseluruhan seperti pesawat yang belum utuh. Kesengajaan ini sepenuhnya disadari Iswanto. Sebab, kalau kita meninjau aspek materialnya, batangan besi yang menghasilkan kerangka tersebut dibalut lampu neon. Pendaran warna biru neon tersebut membalut seluruh outline pesawat yang tidak saja menciptakan ilusi volume, tetapi juga menghalangi mata kita untuk menikmati kerasnya material besi tersebut. Perpaduan ini bisa kita baca pula sebagai konfrontasi internal antar material yang keras dengan pendaran cahaya.

Dalam mekanisme pemajangan karya seni patung konvensional, cahaya sungguh-sungguh dipertimbangkan untuk menghasilkan sensasi-sensasi kualitas (permukaan) sebuah patung. Sebaliknya Iswanto seperti sengaja menabrak konvensi ini dan kita diajak menikmati sensasi efek pendaran lampu berwarna biru yang lembut-halus, yang membalut kerangka besi. Perpaduan inilah yang akan mengantarkan pemahaman kita pada istilah ‘Blue’ yang dipakai sebagai judul pameran ini. Kerangka pesawat dengan material keras; pendaran lampu berwarna biru akhirnya membangun sebuah pemaknaan yang – seperti dikonsepsikan oleh Iswanto sendiri – sebagai perpaduan ironis antara kekerasan dan kelembutan, seolah-olah seperti penyamaran dari suatu peristiwa, suatu situasi yang menyiratkan kesenduan dibalik kekerasan, suatu situasi yang sarat dengan ambiguitas.

Pada gilirannya, kita tahu bahwa konstruksi pesawat Iswanto Hartono adalah replika pesawat F-117A Nighthawk, dikenal juga dengan sebutan Stealth Fighter atau pesawat siluman. Pesawat ini digunakan Amerika Serikat dalam Perang Teluk pada 1990-1991 untuk memerangi Irak ketika melakukan invasi terhadap Kuwait. Pesawat anti radar ini dikabarkan sebagai salah satu kunci sukses Amerika Serikat dan koalisinya untuk mengakhiri konflik di kawasan teluk. Cerita dibalik kesuksesan F-117A pada Perang Teluk juga membawa kabar lain, yaitu jatuhnya korban manusia dan rusaknya infrastruktur di Irak. Kondisi ini melahirkan pertanyaan: apakah arti sebuah kemenangan dalam perang?

Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Iswanto melalui karyanya yang lain berupa lampu LID berukuran 15 x 60 cm. Karya ini berisikan teks-teks yang bergerak secara berderet menghasilkan suatu kalimat yang mereleksikan pernyataan personal Iswanto mengenai perang. Di sana, Iswanto menyatakan bahwa Victory is Mellow sebagai kondisi paska perang yang penuh ironik dimana perang juga menciptakan kondisi psikis tertentu yang berada di ambang antara rasional dan irrasional. Kemenangan perang, dengan suasana sendu di pihak lain memang merepresentasikan kegamangan tersendiri. Situasi-situasi demikianlah kiranya yang ingin ditampilkan oleh Iswanto Hartono dalam totalitas karyanya.

Aminudin TH.Siregar