Kamis, 24 Oktober 2013

Yoon Seo membangunkan In Hye dan menyuruhnya untuk cepat membersihkan diri. In Hye harus segera ke rumah sakit untuk mendapatkan obat. In Hye bergumam, “Sebentar lagi.”
Melihat In Hye masih bermalas-malasan, Yoon Seo menghampiri hendak membangunkannya lagi. Tapi belum sempat ia lakukan, bel berbunyi. Ternyata Shi On datang untuk menjemput In Hye.  Mereka menoleh pada In Hye yang ternyata sudah duduk. Namun wajahnya pucat dan darah mengucur deras dari mulutnya. Dan In Hye pun pingsan.


Yoon Seo dan Shi On kaget dan cemas. Buru-buru mereka segera membawa In Hye ke UGD untuk mendapat penanganan. Yoon Seo sendiri yang memasang infus dan oksigen tambahan pada In Hye.
Dokter mengatakan kalau Yoon Seo demam tinggi dan tekanan darahnya rendah dan In Hye kembali mendapat infeksi. Do Han datang dan menyuruh para residen untuk segera mengganti chemoport-nya.
Walau Presdir Lee sudah tak mau melihatnya lagi, tapi Chae Kyung tetap menghadap ibu tirinya untuk meminta maaf dengan tulus. Presdir Lee cukup terkejut mendengar permintaan maaf itu, karena seperti ucapan Chae Kyung, Chae Kyung tak pernah meminta maaf padanya sejak SMP.
Chae Kyung tahu kalau mustahil baginya untuk memperbaiki kerusakan yang telah ia timbulkan. Tapi ia tetap meminta kesempatan untuk memperbaikinya. Ia melakukan ini bukan untuk rumah sakit, tapi untuk almarhum ayahnya, dr. Choi dan Presdir Lee.
Untung kondisi In Hye dapat kembali stabil. Yoon Seo menyalahkan dirinya yang membawa In Hye pulang, tapi Jin Wok mengatakan kalau hal itu tetap akan terjadi walau In Hye ada di rumah sakit.
Walau In Hye sudah stabil, bukan berarti mereka luput dari kemarahan Do Han . Ia menuding Shi On tidak mengawasi jadwal pemberian obat In Hye padahal Shi On adalah dokter yang menangani In Hye. Ia juga membentak Jin Wook, sebagai dokter yang paling lama menangani In Hye, malah tak mengawasinya.
Sementara pada Yoon Seo, ia menyemprotnya, berani-beraninya Yoon Seo membawa pulang pasien, “Apa gunanya kalian memperlakukannya seperti keponakan kalian sementara yang kalian lakukan malah membuatnya tak sadarkan diri?!”
Tiga dokter itu hanya bisa menunduk mengakui kesalahan mereka. Dr. Kim muncul dan sekarang ganti Do Han yang dimarahi. Apakah Do Han tak bisa merawat pasien dengan benar? In Hye sudah dijadwalkan untuk operasi dan apa yang ada dipikiran mereka, membawa In Hye keluar dengan kondisi kesehatan seperti itu?
Dr. Kim minta agar Do Han kembali melakukan perawatan dengan benar jika tak ingin membunuh pasien di meja operasi. Do Han hanya bisa menunduk minta maaf.
Kali ini saya setuju dengan dr. Kim dan Do Han. Ketiga residen itu benar-benar membahayakan hidup In Hye dengan tak mengecek jadwal pengobatan In Hye.
Mereka bertiga, terutama Shi On, meminta maaf pada In Young atas keteledorannya.  Tapi In Young tak menyalahkan mereka. Ia malah menyalahkan diri sendiri, karena dirinyalah maka perasaan In Hye terluka.
Do Han memeriksa Joon Young sekaligus mengajaknya berbincang-bincang tentang baseball. Joon Young menjelaskan tentang posisinya di tim dan Do Han memujinya yang mirip dengan Lee Byung Gyu, pemain baseball yang ternama.
Joon Young berkata kalau ia juga ingin terkenal sebagai pemain baseball dan ia memberikan sebuah bola baseball pada Do Han, berkata kalau bola itu adalah bola pertamanya yang berhasil ia pukul saat pertandingan perdananya. Do Han heran mengapa Joon Young memberikan sesuatu yang berharga padanya. Joon Young menjawab kalau bola itu adalah hadiah, sekaligus permintaan agar Do Han merawatnya dengan baik.
Do Han mulanya menolak. Tapi Joon Young tetap mengulurkan bola itu, sehingga ia pun menerimanya dan menggenggam tangan Joon Young erat.
Wapresdir Kang memandangi mereka berdua dari luar kamar. Ia mengajak Do Han bicara tentang operasi putranya yang rencananya akan ia lakukan di Jepang. Ia sudah membuat janji dengan Prof. Daisuke.
Do Han mengerti. Prof. Daisuke adalah dokter anak terbaik di dunia ini. Wapresdir Kang pun tahu itu dan ia menghubungi  Prof. Daisuke (yang lebih ahli dan senior) juga karena tak ingin menyakiti perasaan Do Han. Ia meminta pengertian Do Han.
Do Han mengangguk, paham akan maksud Wapresdir Kang. Ia akan menyiapkan semua rekam medis dan usulan mereka. Ia merasa dengan adanya masalah putra Wapresdir Kang, ia merasa bayangan tentang Wapresdir Kang menjadi lebih baik dibanding pertemuan terakhir mereka. “Dalam ingatanku, Anda adalah seorang ayah pasienku.”
Shi On mengembalikan sweater pemberian Chae Kyung, membuat Chae Kyung bertanya, apakah Shi On tak menyukainya? Shi On menggeleng dan beralasan kalau sweater itu terlalu mahal. Alasan itu membuat Chae Kyung heran.
Namun Chae Kyung tersenyum, menduga sesuatu, “Sepertinya kau menolak bukan karena terlalu mahal.”  Ia semakin geli, saat Shi On bingung bagaimana menjawabnya, “Apakah ada orang yang melarangmu untuk memakainya? Apa ada yang cemburu karena aku membelikanmu sweater ini?”
Shi On bengong karena Chae Kyung menebaknya dengan benar. Chae Kyung terkekeh dan berkata kalau orang itu pasti sangat menyukai Shi On. Jika tidak, pasti orang itu hanya diam saja ketika Shi On memakai sweater itu.
Bingung dan mulai berharap, Shi On bertanya apa mungkin orang itu cemburu karena orang itu suka padanya? Chae Kyung tak dapat menahan tawanya, namun dengan wajah (mencoba) lebih serius ia berkata kalau ia hanya bercanda.
“Wow.. aku telah ditipu,” ujar Shi On cemberut. “Bu Manajer, aku merasa kalau aku mulai tak menyukai Anda sebesar ini.” Shi On menunjukkan seujung kukunya dan berlalu pergi.
Chae Kyung memperhatikan Shi On yang menjauh darinya, dan sekarang ia tak dapat menahan tawanya, “Lucu sekali..”
Aww… noona – dongsaeng yang lucu.
Do Han mengganti perban sendiri dan terlihat luka itu masih berdarah. Dan.. tunggu, apa luka itu tak dijahit? Hanya diberi betadine saja? Serius nih, dok?
Perawat Nam senyum-senyum membayangkan Perawat Jo yang dengan gagah berani melawan si psikopat itu. Tapi ia buru-buru mengenyahkan pikiran itu. Perawat Jo dalam pikirannya? Wow banget, kan? Ia menampar pipinya berkali-kali.
Tapi Perawat Jo tiba-tiba muncul dan berkata kalau Perawat Nam pasti sedang memikirkannya. Perawat Nam mencoba mengabaikan tuduhan Perawat Jo dan bertanya untuk apa Perawat Jo menemuinya. Perawat Jo ternyata datang untuk mengingatkan tentang ulang tahun perayaan bagian bedah anak.
Perawat Nam mulai panik dan menyuruh Perawat Jo untuk mulai membicarakan dengan bagian medis, “Dan jangan mengulang pertunjukan Cinderella seperti tahun lalu. Anak-anak tak menganggap kalau itu menarik.”
Perawat Jo berjanji kalau tahun ini ia akan mempersiapkan sesuatu yang menarik. Perawat Jo pun pergi di bawah tatapan mata Perawat Nam yang kembali tersenyum-senyum. Tapi ia segera menampar pipinya lagi dan lagi.
Haha.. romance in the air, nih..
Dr. Choi bertanya apakah tentang luka Do Han yang dijawab Do Han kalau lukanya sudah membaik. Dr. Choi mengingatkan Do Han agar tak melewatkan pengobatan yang harus dilakukan hanya karena alasan sibuk, “Untuk bisa merawat pasien, dokternya sendiri harus sehat.”
Do Han mengerti dan bertanya tentang kabar akuisisi rumah sakit. Dr. Choi menjawab kalau Presdir Lee sedang berusaha mencari cara untuk mengagalkannya tapi sepertinya percuma. Dr. Choi khawatir jika rumah sakit diakuisisi, ia takut orang-orang berbakat di rumah sakit mereka akan mulai berpikir kapitalis.
Do Han setuju akan hal itu, tapi memang susah untuk memegang prinsip. Dr. Choi berkata kalau memegang prinsip itu sangatlah berat, tapi prinsip itu seperti pembungkus, tak memiliki pinggiran yang tajam namun bisa membungkus benda yang tajam, sehingga tak akan ada yang terluka.
In Hye masih belum sadar dan Shi On memeriksa suhu badannya (nggak diukur pakai thermometer, dok?). Ia teringat mimpinya yang ada In Hye  di sana, tersenyum dan terlihat sangat sehat.
Yoon Seo masih sibuk mempelajari kasus Joon Young dan sedikit kecewa saat Do Han memberitahu kalau Wapresdir Kang memutuskan akan memindahkan putranya ke Jepang untuk ditangani oleh Prof. Miura Daisuke.
Yoon Seo sedikit kecewa, tapi nama Prof. Daisuke membuat dirinya lega karena Prof. Miura adalah yang terbaik. 
Perhatiannya teralih karena Do Han meringis seakan menahan sakitsambil memegangi perutnya. Apakah luka di perut Do Han terbuka kembali? Do Han buru-buru memasang wajah biasanya dan membantahnya.
Yoon  Seo hendak mengejar Do Han yang berlalu pergi, namun terhenti karena mendapat SMS yang membuat ia terkejut, “Aku menang?”
Shi On dihadang oleh ayah yang anaknya mengidap tumor. Ternyata ayah itu adalah Dong Goo, anak yang dulu mem-bully-nya dan menantangnya masuk ke dalam goa dimana kakaknya meninggal. Kenangan buruk itu membuat Shi On berkata ketus pada Dong Goo. Apa yang Dong Goo inginkan?
Dong Goo bercerita kalau anaknya mengidap tumor sacroccygeal (tumor yang ada di daerah tulang belakang) dan akan dijadwalkan untuk operasi besok. Anak itu lahir saat ia SMA dan walau masih muda, ia sangat menginginkan kelahiran anaknya. Dong Goo mengaku kalau ia telah melihat Shi On sebelumnya. Tapi ia terlalu pengecut untuk menyapa Shi On.
Walau saat itu ia masih kecil, tapi apa yang pernah ia lakukan pada Shi On dan kakaknya itu adalah suatu hal yang salah. Maka ia merasa kalau penderitaan putranya ini akibat kesalahan dirinya saat itu. Shi On langsung menyergah ucapan Dong Goo, “Jika anak-anak sakit itu ya memang karena mereka sakit, bukan karena dihukum.”
“Saat aku kecil dulu, aku tak pernah mengucapkan maaf,” Dong Goo menatap Shi On penuh penyesalan, “Maafkan aku, teman.”
Tapi Shi On tak semudah itu bisa melupakan kepedihannya. Tak menanggapi permintaan maaf Dong Goo, Shi On berbalik pergi.
Do Han yang menemukannya sedang duduk terpekur. Ia menegur Shi On namun segera melihat kalau Shi On sedang galau. Shi On bertanya apa yang harus ia lakukan jika ada orang yang melakukan sebuah kesalahan yang besar padanya dan sekarang orang itu minta maaf. Apakah ia harus memaafkannya?
Do Han menjawab kalau hal itu tergantung orangnya, “Kalau orang itu minta maaf hanya untuk membebaskan diri sendiri, maka jangan maafkan orang itu. Tapi jika ia benar-benar minta maaf dengan tulus, maka maafkanlah dia.”
Masalahnya Shi On tak tahu apa yang ada dalam pikiran orang itu. Tapi menurut Do Han hal itu mudah untuk diketahui, “Lihat baik-baik bagaimana orang itu hidup dari dulu hingga sekarang.”
Shi On berjalan dengan melamun, membuat Yoon Seo yang berpapasan dengannya, menegur karena Shi On berjalan dengan pikiran kemana-mana. Shi On pun melihat udara di depannya dan menangkap udara itu, “Aku sudah menangkap (pikiran) itu. Ada apa?”
Sedikit tergagap, Yoon Seo berkata kalau ia pernah memasukkan kartu namanya di sebuah restoran, dan ternyata ia memenangkan voucher untuk makan gratis di restoran itu, “Aku ingin mentraktirmu makan.”
Dan.. hahaha.. Yoon Seo ini memenangkan voucher ulang tahun untuk couple atau apa, ya? Karena para pelayan melayani mereka dengan gitar, confetti ulang tahun, lengkap dengan bando pita warna-warni. Tak lupa para pelayan itu meminta mereka dengan berciuman. Untung permintaan itu dapat ditolak dengan halus oleh Yoon Seo.
Yoon Seo minta maaf pada Shi On, ia tak tahu kalau voucher yang diberikan adalah voucher untuk pasangan. Tapi Shi On tak masalah karena yang penting ia bisa makan steak. Dengan gaya (pura-pura) tak peduli, Yoon Seo bertanya apa yang akan dilakukan Shi On kalau para pelayan itu kembali dan meminta mereka untuk berciuman lagi?
Shi On berhenti makan dan berkata kalau ia tak akan mau. Yoon Seo heran karena sepertinya Shi On membenci ide itu, padahal ia sedang bercanda. Namun sambil kembali mengunyah, Shi On berkata kalau orang berciuman itu harus dengan orang yang akan mereka nikahi.
Yoon Seo geli dan bertanya siapa yang mengatakan hal itu pada Shi On? Ia menambahkan kalau berciuman itu bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dan Shi On juga bisa melakukannya sekali dalam satu waktu.
Shi On mengangguk mengerti. Yoon Seo menyembunyikan cengiran usilnya dengan meminum anggurnya. 
Haha.. Bad Girl.
Do Han mengajak Chae Kyung untuk ke ruang observasi di ruang operasi. Chae Kyung heran mengapa Do Han mengajaknya ke tempat ini? Do Han menjawab kalau ini adalah tempat ia dulu mengungkapkan perasaannya, “Katamu kau ingin menemukan kenangan indahmu dulu.”
Chae kyung kaget mendengar tempat ini adalah saksi bisu peristiwa itu. Ia ingat kejadian itu, tapi ia juga lupa apa kata-kata Do Han saat itu. Pokoknya ia merasa kata-kata Do Han itu sangat keren sekali. Ia bertanya bagaimana cara Do Han mengungkapkan perasaannya?
Ternyata begini caranya. Do Han berdehem dan berkata, “Saat itu yang kukatakan adalah ‘Setelah aku pikir-pikir, aku sudah bosan sendirian.’”
Chae Kyung menatap Do Han berbinar-binar, menantikan kelanjutannya. Tapi Do Han tetap diam sehingga Chae Kyung bertanya, “Sudah itu saja?”
Bwahaha.. Do Han mengangguk serius membuat Chae Kyung mengerutkan kening, “Beneran hanya itu?” Do Han kembali mengangguk sehingga Chae Kyung tertawa dan memukul lengan Do Han, “Apa-apaan itu? Hu-uh.. kenapa aku ingatnya saat itu keren sekali, ya?”
“Kurasa akunya yang memang lebih keren jika dibanding dengan pengakuanku,” ujar Do Han sombong. Chae Kyung tertawa dan menyadari kalau semuanya memang kelihatan keren saat sedang jatuh cinta. Sambil melingkarkan tangan ke lengan Do Han, Chae Kyung menyadari kalau kenangan indah itu bukanlah sesuatu yang bisa diingat hanya dengan kata-kata saja.
Do Han setuju dengan pernyataan Chae Kyung, “Karena yang kuingat saat itu adalah suhu ruangan yang  36,7 derajat celcius dan ada seorang wanita yang memiliki humerus (lengan) dan ulna (tangan) yang benar-benar kurus yang duduk di hadapanku.”
Chae Kyung kembali tertawa dan kembali memukul lengan Do Han karena Do Han mengeluarkan gombalan yang ilmiah sekali itu.
Saat makan hidangan penutup, Yoon Seo bertanya apakah Shi On dan Jin Woo sering membicarakan masalah kehidupan cinta mereka? Shi On mengangguk namun ia tak membicarakan masalah pengakuan cintanya pada Yoon Seo. Yoon Seo bertanya apakah Shi On malu?
Shi On menggeleng walau ia berkata kalau ia sebenarnya ingin menceritakan hal itu pada Jin Woo. Tapi ia tak melakukannya karena jika ia menceritakan perasaannya pada orang-orang, ia khawatir akan melukai perasaan orang yang ia sukai.
Yoon Seo heran, bagaimana Shi On bisa melukai perasaannya? Shi On pun menjelaskan kalau ia sadar akan dirinya yang berbeda dengan orang lain. Dan ia khawatir kalau orang yang ia suka akan dicemooh oleh orang lain. Dulu teman-temannya juga suka diejek karena dekat dengannya, “Jadi aku lebih nyaman jika sendiri. Lebih mudah jika aku sendirian saja karena hanya aku sendiri yang diejek.”
Yoon Seo menatap Shi On yang kembali mengunyah kue. Dan saya baru menyadari mengapa Shi On tak berani bercerita pada In Hye. Ia bukan khawatir malu karena ketahuan suka pada Yoon Seo, tapi ia khawatir Yoon Seo merasa malu karena orang lain tahu kalau ia suka padanya.
Jin Wook menghampiri In Young yang masih belum tidur padahal sudah malam. Ia menenangkan gadis itu dan berkata walau suhu tubuh In Hye masih belum normal, tapi septicemia memang butuh waktu untuk bisa stabil lagi dan In Hye akan kembali pulih dalam beberapa hari.
Jin Wook pun beranjak pergi, tapi In Young tiba-tiba berkata agar Jin Wook tak terlalu memperhatikannya. Setelah operasi In Hye, ia tak akan bisa menjadi wanita normal lagi dan hanya akan menjadi beban bagi siapapun yang akan menjadi pendampingnya.
Matanya berkaca-kaca saat meminta agar Jin Wook tak salah sangka karena ia mengatakan hal ini dengan berat hati, “Aku berharap agar kau mengakhiri perasaanmu sampai di sini saja.”
“Apakah In Hye adalah beban untukmu, In Young-ssi?” Jin Wook tersenyum saat In Young tak dapat menjawabnya, “Begitu pula denganku. Tak peduli bagaimanapun, bagiku kau tak pernah akan menjadi beban.”
Jin Wook tahu siapa orang yang menjadi biang keladi timbulnya percakapan tadi. Di ruang jaga, Jin Wook mengejar Shi On dan menggelitikinya hingga Shi On terampun-ampun jatuh ke sofa. Tapi Jin Wook tak marah, bahkan ia berterima kasih karena Shi On yang memberi tahu In Young.
Setelah Jin Wook puas menghukum, akhirnya Shi On bisa berdiri. Ia bertanya bagaimana reaksi In Young. Dari ekspresi Jin Wook, Shi On menduga hasilnya kurang baik. Jin Wook hanya tersenyum. Ia hanya bisa pasrah, dan berkata puitis, “Cinta yang terluka tetaplah cinta.”
Dan sambil tetap tersenyum, Jin Wook mencubit gemas pipi Shi On yang masih mencoba mencerna kalimat terakhirnya.
Saat jaga malam, Shi On melihat Dong Goo bercanda dan menghibur putranya. Ia memikirkan kembali penyesalan yang diucapkan Dong Goo sebelumnya dan ia tersenyum.
In Hye akhirnya sadar dan kalimat pertama yang ia ucapkan adalah ia tak ingin mati sekarang, membuat kakaknya menangis lega. Ia minta maaf pada Shi On dan juga pada Yoon Seo. Shi On meminta In Hye tak mempermasalahkan hal itu namun memintanya berjanji untuk mau minum obat dan menjalani perawatan.
In Hye terdiam, tapi ia tak dapat menahan air matanya. Shi On menghapus air matanya. Air mata In Hye semakin deras mengalir, “Sekarang aku tak akan menangis. Dan aku.. tak ingin mati.”
Do Han mengunjungi anak Dong Goo untuk yang terakhir kalinya sebelum masuk ke kamar operasi satu jam lagi. Shi On yang menyertainya, mengucapkan harapannya agar operasi anak temannya ini berhasil. Do Han sedikit kaget mendengar Dong Goo adalah teman Shi On. Sementara Dong Goo tersenyum haru mendengar Shi On memanggilnya sebagai teman.
Saat berdua, Dong Goo berterima kasih karena Shi On mau memaafkannya. Tapi Shi On meminta Dong Goo untuk tak berterima kasih dan bertanya Dong Goo benar-benar menyayangi putranya, kan? Dong Goo membenarkan. Walau kadang terasa sulit saat membesarkan Joo Nam, tapi putranya itu adalah harapan satu-satunya.
Shi On bertanya sekali lagi apakah Dong Goo benar-benar merasa ia adalah temannya? Dong Goo menjawab iya, “Dahulu aku bukanlah teman yang baik. Tapi sekarang aku adalah teman yang sangat berterima kasih kepadamu.”
Shi On berkata kalau ia akan memaafkan Dong Goo dengan satu syarat, “Besarkan Joon Nam sehingga ia bisa sehat. Kuat dan sehat sepertimu.”
Terharu mendengar permintaan Shi On, Dong Goo memeluk temannya erat. Shi On perlahan menepuk-nepuk punggung Dong Goo, membesarkan hatinya.
Do Han melakukan briefing terakhir sebelum operasi Joo Nam. Bersamaan dengan itu, ada ambulans datang membawa seorang anak tak sadarkan diri setelah sakit perut dan diduga hernia. Shi On mendapat kabar itu dari UGD. Do Han menyuruh Shi On untuk memeriksanya dan tak mengikuti operasi untuk kali ini.
Shi On pun pergi ke UGD. Dari dokter jaga, ia mengetahui kalau pasien itu sebenarnya sudah pingsan sejak di sekolah, tapi karena lama di UKS dan macetnya perjalanan, membuat pasien itu sudah sakit selama berjam-jam. 
Shi On meminta dokter jaga untuk segera melakukan CT Scan, dan menelepon seseorang yang berpengalaman dan bisa membantunya.